Self Trip from Lombok to Cairo


“Pergilah sejauh yang kau mau, agar kau tau begitu banyak hal yang harus kau syukuri”

Dulu semasih saya duduk di sekolah dasar, paman saya pernah berkata “nak, nanti kalau sudah besar sekolahnya harus jauh dari rumah ya, dan kunjungilah tempat-tempat yang ingin kamu kunjungi”. waktu itu, saya anak yang masih belum memahami apa-apa hanya mengangguk saja mengiyakan perkataan paman saya.
Well guys karena baru banget dikirimin foto oleh salah satu colega, saya jadi mengingat salah satu moment yang membuat saya ingin menulis pengalaman sekali seumur hidup itu sore ini, tapi doakan aja ya pengalaman itu biar bisa terulang kembali.

Beberapa hari yang lalu saya pergi menemui dosen pembimbing akademik saya di kampus yang Alhamdulillah beliau juga termasuk salah satu pejabat fakultas. Image beliau didepan mahasiswa/mahasiswi yang notabene belum mengenal beliau  menyatakan bahwa beliau sedikit menakutkan, sampai gak satu dua mahasiswa yang kalau ingin bertemu beliau harus dzikir terlebih dahulu (oke, ini becanda). Pada dasarnya beliau adalah orang yang baik, beliau juga seorang traveling abroad addicted, bahkan beliau sudah mengelilingi beberapa Negara di benua eropa yang membuat saya tertakjub-takjub mendengar cerita beliau saat itu. Hah.. kalau masalah traveling mah, sepanjang apapun ceritanya saya tidak akan pernah bosan.

Tepat sekali hari itu juga saya bertemu dengan mantan teman sekelas (karena semester 8 udah ga ada kelas lagi)  yang sedang ingin bimbingan juga, sembari menunggu dosen pembimbing yang masih sibuk dengan urusannya saya dan kedua teman saya itu bercerita tentang banyak hal. Nah salah satunya adalah tentang perjalanan saya ke Egypt bulan juli tahun lalu. Di pertengahan cerita mereka heran karena saya bilang kalau saya berangkat dari Lombok – Egypt sendirian.
“kamu seriusan sendirian cha?”
“iya tuh”
“aku kira ada rombongan bareng, kumpul di Jakarta gitu”
“nggak nggak, aku berangkat sendirian dari Lombok”
“ih gila kamu cha, kamu gak hilang?”
“gak lah, buktinya aku sekarang di depan kalian berdua”
“ya ampun cha, kamu gila banget, trus pas transit gitu gimana? kamu tau harus kemana dari mana?”
“hahaha kan banyak petunjuk di bandara mah, tinggal ngikut-ngikut aja”
Sudah saya duga, dari angka 10 yang mendengar cerita saya 9 dari itu mengatakan saya gila, tapi nggak apa-apa saya senang, setidaknya saya gila bukan hanya karena cinta (apa-apaan ini ga penting). Naah.. yang saya mau ceritakan kali ini adalah pengalaman traveling sendirian dari Lombok ke Egypt. Kuy di simak sekalian mau bagi-bagi tips biar ga hilang :)

Hari itu tanggal 14 juli 2016 saya berangkat dari BIL (Bandara International Lombok) ditemani oleh ibu, bapak dan bibi saya. Saya tau, pasti berat rasanya kedua orang tua saya melepas anak perempuan satu-satunya untuk berpergian jauh, sendirian pula. Tapi saya terus kuatkan dan yakinkan bapak dan ibu kalau saya akan baik-baik saja dan berjanji akan selalu memberikan kabar selama di perjalanan nanti.

Perjalanan saya kali ini cukup ribet, bukan karena apa dari awal saya menggunakan jasa travel yang menurut saya sebagai customer kurang puas karena sering tidak tepat waktu dan lain-lain yang tidak bisa saya katakana disini. Saya menggunakan jasa travel karena memang perisapan keberangkatan yang kurang optimal karena saya waktu itu ada jadwal kuliah dan praktikum yang tidak bisa saya tinggalkan untuk mengurus visa ke Kedubes Egypt di Jakarta. So, tips pertama selama ada waktu untuk mengurus segala hal sendiri uruslah visa atau pesan tiket pesawat sendiri dari jauh-jauh hari. Karena pemesanan tiket sekarang sudah sangat mudah sekali, untuk teman-teman yang melakukan perjalanan jauh bisa pesan tiket di Skyscanner.com, karena sering ada promo dan harga tiket yang cukup terjangkau.

Saya berangkat dari Lombok menuju bandara Ngurah Rai, Denpasar dengan menggunakan garuda indonesia. Cobaan pertama mulai saya dapatkan saat tiba-tiba saja diumumkan bahwa penerbangan Lombok-Denpasar via garuda indonesia delay. Sempat gemetaran karena saya masih ada penerbangan selanjutnya dari Ngurah Rai menuju ke Changi Intl, Singapore yang memang berjeda 3 jam saja. Saya mulai panik dan terus saja berdoa semoga delaynya tidak terlalu lama. dan alhasil garuda delay selama 1 jam 30 menit, sehingga sisa waktu penerbangan saya ke Singapore sekitar 1 jam 30 menit lagi sedangkan saya posisi masih di Lombok.  Siapa yang nggak kebelet pipis coba kalau berada di situasi seperti itu. But, Alhamdulillah Allah masih sayang sama saya, 15 menit sebelum gerbang check in di tutup saya bisa masuk dan bisa beristirahat sebentar di ruang tunggu. dan saat di ruang tunggu saya bertemu dengan ibu-ibu yang berada di gate yang sama dengan saya, jujur saja mukanya sih muka pribumi, orang indonesia gitu. jadi saya dekati dan ngajakin bicara.
“bu, flight ke Singapore ya?”
“emm?”
“ibu flight ke Singapore?” saya ulangi lagi
“I don’t catch your point”
Mampus !! memang muka oriental, pribumi but ternyata ibunya adalah orang Melbourne yang baru selesai berlibur ke bali. I’m exicted ! well saya masih di indonesia tapi saya sudah harus berbicara bahasa asing. Beberapa lama ngobrol sama ibunya finally passengers penerbangan ke Singapore via jetstar-pun dipanggil untuk naik pesawat. Sebelum naik pesawat biasanya untuk international flight akan dilakukan pemeriksaan barang yang akan dibawa masuk ke kabin so tips kedua Jangan bawa cairan lebih dari 100 ml, untuk sabun cair, atau lotion sebaiknya taruh di bagasi. kalau kedapatan membawa cairan lebih dari 100 ml di kabin, maka petugas tidak akan segan untuk membuangnya. kan sayangnya ! so trip smart guys. :)

Perjalanan dari Denpasar-Singapore saya tempuh dalam waktu 3 jam via Jet star. Di Singapore pesawat landing di terminal 3, sedangkan tiket saya selanjutnya Singapore- Muscat (Oman) harus berangkat dari terminal 1. Nah karena penerbangan saya yang sebelumnya dan yang selanjutnya tidak connect, jadi saya harus mengambil bagasi dulu melalui  imigrasi lagi. oh ya sebelum bertemu petugas imigrasi jangan lupa mengisi formulir imigrasi yang biaasanya terletak beberapa meter dari tempat imigrasi. Jangan malu untuk bertanya pada petugas imigrasi tentang apa saja yang harus diisi di formulir tersebut jika teman-teman kurang memahaminya. Setelah dapat cap dari imigrasi saya langsung pindah terminal dari terminal 3 ke terminal 1. Jangan khawatir akan banyak penunjuk jalan di airport area, apalagi di bandara Changi yang di nominasikan sebagai bandara nomor 1 di dunia.

Dikarenakan jarak antara terminal 3 ke terminal 1 cukup jauh, jadi saya harus naik skytrain yang bisa kita akses dengan gratis, karena merupakan salah satu fasilitas di Changi Airport.

Jam 02:00 am, saya tepat berada di terminal 1 bandara Changi. karena kehausan saya akhirnya memutuskan untuk membeli air mineral. Saat saya masuk ke salah satu kafe yang kebetulan menjual air mineral saya Tanya ke casher-nya.
“can I pay it with Indonesian currency ?”
“do you mean rupiah?”
“yes”
“No, we don’t need rupiah here”
Wih, mak jleb sekali saat mata uang Negara kita ditolak mentah-mentah oleh negara lain. Saya Tanya seperti itu karena indonesia-singapore kan tetanggaan, pasti banyak orang indonesia juga di sini. but yah mau dibilang apalagi syukur saja waktu itu saya membawa dolar US sehingga bisa bayar pakai uang tersebut. Nah tips lagi nih setidaknya bawa dolar US kemanapun kita traveling. Misalnya teman-teman mau traveling ke Thailand dan kebetulan transit di Singapore dan dari rumah hanya membawa mata uang Negara tujuan, resikonya saat ingin minum atau makan di bandara belum tentu mereka menerima mata uang Thailand. Nah karena itu saya sarankan bawalah dolar amerika (USD) karena mata uang itu di terima di setiap Negara.

saya tiba-tiba mengingat janji saya pada orang tua, bahwa selama di perjalanan saya harus selalu mengabari mereka, dan saya langsung coba mengakses wifi di bandara. Karena kesusahan log in saya sempat putus asa, namun dari kejauhan saya melihat seorang petugas yang sedang berdiri di pintu check in dan saya mencoba mendatanginya dan meminta bantuan.
“sir, can you please help me to connect into a wifi?”
“oh sure, let me see your phone”
saya akhirnya memberikan hape kepada petugas tersebut. cukup lama beliau berusaha menyambungkan ke wifi hasilnya nihil dan akhirny beliau menawarkan saya untuk menggunakan id dan password miliknya sebagai petugas. dan dengan senang hati sayapun menerima tawaran petugas tersebut lalu berterimakasih. Nah tips lagi untuk teman-teman, saat berada di airport tanyakanlah hal-hal atau mintalah bantuan hanya pada petugas. hal itu untuk menghindari kemungkinan penipuan dan lain-lain serta kalau bertanya pada petugas, mereka akan berusaha memberikan kita pelayanan terbaik.

Tepat pukul 04:30 saya check in kembali dan mendapatkan dua boarding pass, Changi-Muscat dan Muscat-Cairo via oman air. Pukul 06:00  pesawat berangkat meninggalkan bandara changi ke Muscat, perjalanan via oman air ditempuh selama 11 jam karena pesawat harus berhenti dulu di kuala lumpur, tapi kami diperoblehkan untuk tidak turun pesawat, yasudahlah saya melanjutkan tidur saja karena seharian tidak tidur.

Setiabanya di Oman, saya langsung menuju ke ruang tunggu karena tidak perlu check in lagi. saat itu say berkenalan dengan 2 orang yang berasal dari Malaysia yang kebetulan sedang membawa rombongan anak kuliah yang kebetulan berkuliah di Al-azhar, Cairo. Bertemu dengan teman dari Negara tetangga apalagi yang bahasanya tidak berbeda jauh dengan bahasa kita, rasanyaa seperti bertemu saudara. Saya banyak bercerita dengan dua orang yang saya panggil mbak tersebut dan kita sempat bertukar nomor whatsap untuk saling mengabari setiba di cairo nanti.
1 jam transit di Muscat, memberikan banyak pelajaran,  hawa-hawa timur tengah mulai terasa karena kebanyakan orang yang mengisi bandara di muscat ini menggunakan sorban, tidak sedikit juga yang bercadar. Saat itu saya masih belum percaya kalau saya sudah berada begitu sangat jauh dari rumah dan tidak lupa saya memberikan kabar pada orang tua bahwa saya dalam keadaan baik-baik saja.

Perjalanan Oman-Cairo ditempuh dalam waktu 2 jam via Oman air, tak terasa akhirnya saya sudah sampai di Negara tujuan dimana saat itu di Cairo masih menunjukkan pukul 16:00 pm, dan di indonesia pukul 21:00 pm. di Cairo intl airport saya mendapatkan cobaan yang menurut saya cukup berat karna traveling sendirian. Bayangkan saja saya ditahan di imigrasi selama lebih dari 2 jam karena alasan yang saya tidak tahu. Saya berusaha berkomunikasi dengan pihak imigrasi dengan bahasa inggris, but kebanyakan dari mereka menolak menggunakan bahasa asing tersebut dan keep talking arbaic with me. Oh shit men !  saya tidak paham sama sekali. beberapa jam tidak diperdulikan, saya tetap menunggu sendiri tanpa kepastian dan finally mungkin karena faktor kelelahan juga, saya akhirnya menangis di bandara. Cukup memalukan memang tapi tak apalah, pengalaman sekali seumur hidup nangis di Cairo international airport.

Entah karena kasihan atau apa, akhirnya visa saya di cap juga sama petugas imigrasi dan saya diperbolehkan keluar dari bandara. Di luar saya sudah di tunggu oleh L.O student exchange program, dua orang laki-laki bernama saif dan ahmed yang selanjutnya menjadi teman baik saya hehehe. Well guys, begitulah cerita perjalanan saya dari Lombok ke cairo. Kalau ingat perjalanan itu saya ga habis fikir betapa beraninya saya saat itu, hanya dengan bermodal ngikutin petunjuk jalan dan bahasa inggris yang ala-ala banget. Dan saat itu juga saya sadar kenapa paman saya berpesan seperti yang saya tuliskan di atas, saya tahu bahwa saya harus banyak melihat ciptaan allah, belajar bersyukur atas segala hal yang telah diberikan pada saya, belajar bagaimana saya harus menjadi berani dan bertahan dalam kondisi apapun.

Cukup dulu deh tulisan saya kali ini, lain kali saya akan mencoba nulis perjalanan pulang dari Cairo-Lombok dan lagi-lagi sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Life lesson

Beda itu indah !

Berdamai dengan perasaan