Perjalanan Pulang
Part
I
Malam
ini sepulang dari tempat kursus akhirnya teman satu kursusan ngajakin kumpul,
oh bukan aku lupa, tadi siang aku yang mengajak kumpul, memprovokasikan janji
kumpul bareng yang selalu jadi wacana di group whatsapp. Akhirnya malam ini terealisasikan,
meski tidak lengkap semua. Di tempat makan yang sudah kita diskusikan kita
banyak bercerita, sharing lebih tepatnya. Tentang pengalaman, masa lalu, masa
sekarang dan masa depan. Aku selalu senang jika bagian ini dimulai, bukan hanya
mendengar, kita bisa bertukar fikiran bahkan belajar dari pengalaman orang
lain.
Setelah
hampir dua jam kumpul akhirnya kita memutuskan pulang, karena masing-masing
punya urusan yang harus dikerjakan, ada juga yang karena takut kostan ditutup.
Pertemuan yang singkat itu membuat aku mengingat sesuatu. “Oh ya, bukankah aku
punya janji harus menulis perjalanan pulang?”, mungkin tidak ada yang menanti
tulisanku, tapi aku merasa belum menepati janjiku. Maka dari itu, aku akan
menepatinya sekarang juga.
Genap
sudah 8 bulan yang lalu, setelah menuntaskan kegiatan pertukaran pelajar di
Mesir, akhirnya waktu pulang ke tanah airpun tiba. Jauh-jauh hari kami sudah
berbelanja di pasar tradisional mesir, pasar yang terletak dekat dengan universitas
Al-azhar. Banyak hal yang kami beli di sana, untuk buah tangan nanti saat
pulang ke tanah air. Perlu diketahui waktu perpulangan kami berbeda-beda,
teman-teman dari universitas indonesia pulang bersama, teman-teman dari ITB
juga pulang bersama, dan aku seperti biasa pulang sendiri. Perpulangan pertama
dimulai oleh temanku, Alba dari Barcelona, dia terbang ke negeri spanyol
sendiri, tak jauh beda denganku.
Tanggal
14 Agustus 2016 seikitar jam 10 pagi, aku diantarkan ke bandara internasional
cairo oleh temanku, shaaban si pemilik toko mas. Kami sempat diajak bertamu ke
rumahnya yang berada di kompleks perumahan, dari luar terlihat sederhana
bangunannya, tapi saat masuk ke dalam rumahnya, jangan tanyakan, Rumahnya bagus
sekali, lantai tak terlihat karena dilapisi karpet tebal khas rumah di daerah
arab, tapi ada yang lucu di situ, kita diperbolehkan masuk menaikkan sepatu,
hah rasanya tidak enak menginjakkan kaki di karpet bagus itu tanpa membuka alas
kaki, tapi yasudahlah katanya memang seperti itu kebiasaan dirumahnya. Oh ya
kembali lagi ke hari perpulanganku ke tanah air, sekitar jam 11 kami sudah
sampai di bandara, shaaban mengangkat koperku dari bagasi dan memberikan kotak
kecil padaku, katanya sebagai kenang-kenangan, yang ain sudah menerimanya juga
saat hari perpulangan mereka, sekarang giliran aku. Baiklah aku mengambil kotak
kecil itu dan berterimakasih.
Hari
itu bandara penuh sekali oleh kerumunan orang-orang yang hendak melakukan
perjalanan. Shaaban hanya mengantarku sampai di depan gate karena selain
penumpang tidak boleh ikut masuk, aku menyuruh shaaban pulang, ia mengangguk
dan berbalik, tapi setelah diruang tunggu nanti aku tau kalau dia masih
menunggu sampai pesawatku terbang, aku tahu saat membaca pesannya di ruang
tunggu. Ah Shaaban aku tau dia orang baik. Terimakasih banyak.
Aku
memasuki antrian yang padat, sungguh padat sekali. Sesekali aku berjinjit
melihat papan pengumuman dimana gate milik penumpang pesawat Emirate. Aku mulai
mengantri, antrianku diambil orang. Entah mereka datang darimana, tiba-tiba
saja sudah didepanku. Aku biarkan saja, Namun kali ini ada yang mendesak lagi,
tiba-tiba memasuki antrian, setelah itu ada lagi dan lagi, sampai aku
tertinggal cukup belakang. Aku sempat mengumpat, kenapa mereka tidak mengantri
dengan baik, bahkan tak ada yang berusaha mengehntikan kegaduhan antrian itu,
sungguh di situ rasanya aku ingin menangis. Bayangkan saja sisa waktu untuk
check in sekitar 45 menit lagi, tapi aku masih tertinggal di belakang. Ini
penerbangan international, sekali terlambat habislah sudah. Aku berusaha kuat,
bersabar dan berdoa semoga antrian ini cepat selesai, namun harapanku semakin
pupus setelah melihat begitu banyak orang yang berada di depanku. Aku sempat
memikirkan hal-hal negative seperti akan tinggal lama di mesir lagi dan akan
dimarahi petugas imigrasi lagi karena waktu berkunjung di Negara mereka
melebihi batas.
Di
tengah keputusasaan itu, aku berusaha menenangkan diri, berdoa semoga tak
terjadi hal yang tidak diinginkan. Bandara semakin rebut dengan suara-suara
yang tidak aku pahami, antrian semakin tidak beraturan, di situlah di titik
keputusaanku seseorang menarik tanganku dan mengambil alih pegangan koper. Aku
heran dan langsung tersadar, tapi aku masih belum bicara apa-apa. Bapak yang
belum aku ketahui namanya itu menarikku keluar dari antrian, melangkah maju ke
depan melewati antrian panjang sampai di salah satu koper merah yang berdiri
sendiri, dia melepasku di situ, tepat disampingnya sambil tetap memegang
koperku. Aku sesekali menoleh kebelakang dan dia langsung mengawasi, “jangan
lihat kebelakang nak, jangan perhatikan mereka”, aku mengikuti beliau, sesekali
ada suara triakan dari belakang antrian, entah kenapa aku merasa kalau aku yang
diteriaki, sampai akhirnya ada seorang lelaki dengan badan tinggi besar menepuk
pundak bapak berumur 60an lebih itu. mereka bercakap-cakap dengan bahasa arab
dengan aksen yang cukup berbeda. Aku tidak paham banyak, tapi aku tahu bapak
itu kali ini menolongku, dia menjelaskan bahwa aku teman seperjalanannya karena
itu dia membawaku masuk ke antriannya. Beliau katakan kepada lelaki arab itu
bahwa beliau mengenalku, tak lama kemudian lelaki arab itu pergi. Bapak itu
tersenyum ke arahku.
Singkat
cerita, aku akhirnya tahu bahwa bapak itu adalah orang Dubai yang melakukan
perjalanan ke Mesir, Beliau berkata kalau melihatku semakin jauh dari gate
antrian, padahal tadi saat masuk keamanan aku bersama dengan beliau.
Allahuakbar, bahkan aku tidak memperhatikan itu, tapi bapak itu tidak. Beliau
mungkin iba melihatku dan memutuskan untuk menarikku bersaamanya, dan sekarang
aku hanya tinggal menunggu 2 orang yang mengantri di depanku untuk masuk ruang
check in. Kebetulan sekali perjalananku kali ini menggunakan pesawat Emirate
yang akan transit di Dubai, sama dengan bapak itu, bedanya beliau tidak
transit, tapi pulang ke rumahnya. Tahap selanjutnya lancar, kami langsung check
in dan melewati imigrasi dengan aman tanpa halangan dan akhirnya sampai di ruang
tunggu, tinggal menunggu pesawat kami datang. Hari itu Allah menolongku melalui
seorang bapak tua yang tidak aku kenal. Alhamdulillah.
Komentar
Posting Komentar