My Precious Odyssey



 
“Jangan pernah bandingkan kemampuanmu dengan orang lain, karena kita semua memulai dari awal yang berbeda-beda”

Begitulah kalimat sambutan yang selalu aku ingat sampai hari terakhirku di tempat yang penuh dengan kehangatan ini. 

Aku ingat sekali 1 bulan yang lalu, ketika aku memutuskan untuk datang ke Pare, kalau ditanya, “ingin mengisi waktu luang” jawabku. Tapi ini memang benar, 60% dari alasanku adalah aku tak ingin hanya bangun untuk tidur lagi dan mandi untuk bertemu kasur lagi di Jogja karena kegiatan belajar dan diajar sudah selesai. Entah sejak kapan belajar menjadi teman dekatku setelah aku beberapa kali menolak belajar yang mengajakku berdamai. Lalu, 40%  alasan yang tersisa adalah ingin belajar IELTS ( jangan tanya buat apa), waktu sewa kos-an sudah habis, dan ingin mencari tempat baru dan bertemu orang baru. Dengan alasan yang tidak terlalu kuat itu aku jadi cukup ringan melakukan pengembaraan mencari kitab suci ini. (mencari ilmu maksudnya, menurut ngana gue sun go kong

Ternyata pengembaraan sendiri itu mengantarkan aku bertemu dengan orang-orang yang sangat menginsipirasi, dengan cerita hidup masing-masing yang pastinya berbeda-beda dan beragam, dengan pahit-getirnya kehidupan yang mereka campurkan dalam senyuman, dan ingin aku katakan bahwa pengembaraan kali ini memberikan aku guru-guru kehidupan terbaik dengan versi mereka masing-masing. Ada yang masih sangat muda sudah mencapai apa yang mereka inginkan, ada yang sudah menangis keringat memperjuangkan mimpi mereka dan ada juga yang masih bersantai ria menikmati sungai kehidupan yang akan membawanya pergi. Hal sederhana ini begitu unik menurutku, memperhatikan cara hidup mereka saja aku sudah bahagia, memang terlihat kurang kerjaan memperhatikan hidup orang lain, tapi bagi orang sepertiku hal itu mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah “jangan pernah paksakan kehendak kita kepada orang lain, karena lihatlah dari cara makan saja kita sudah berbeda apalagi cara hidup dan berfikir”.  Begitulah mereka mengajarkan arti kehidupan, entah bagaimana cara mereka menghadapinya, tidak ada yang salah sama sekali. Karena orang-orang punya prioritas dan jalan hidup mereka masing-masing. 

Jika orang-orang bertanya apa yang paling berkesan di Pare, Kampung inggris yang sudah sangat masyhur ini, mungkin pelajaran IELTS-nya akan menjadi jawaban kesekian dari jawaban-jawaban lainnya, yang jelas hal yang paling mengesankan dari Pare adalah, betapa Allah telah menciptakan keajaiban di kampung ini, hanya di kampung inilah kita bisa temukan sejuta budaya, sejuta bahasa dan dialek yang berbaur menjadi satu keharmonisan , seperti yang mereka bilang Pare is a miniature of Indonesia . Sebagai contoh saja, orang jawa akan mendadak berdialek medan dan orang medan akan mendadak berdialek jawa, cukup kontradiksi sekali bukan? Tapi mereka menghargai budaya masing-masing, membuka wawasan satu sama lain bahwa Allah telah ciptakan dunia dan khusunya indonesia ini untuk belajar, bukan hanya dinikmati pemandangannya. Aku kutip lagi kata seorang temanku “ Nis, lo tau ga, gw selalu percaya kalau pertemuan kita di sini bukan hanya kebetulan, tapi sudah di atur, gue belajar arti kehidupan dari lo dan begitu juga lo akan belajar meski sekecil apapun dari gue”, bayangkan saja apa yang aku rasakan saat itu, hatiku begitu penuh, aku begitu bahagia menemukan orang dengan pandangan yang sama denganku dalam menilai kehidupan. 

Jujur saja aku katakan, setiap memulai perjalanan aku sudah siapkan satu kotak  kosong dalam otakku untuk menyimpan cerita dan rahasia orang lain. Begitu seterusnya, sampai otakku akan selalu mengingat mereka dengan karakter mereka masing-masing, sampai di akhir cerita kotak itu akan penuh dan akan aku kunci hingga kita bertemu lagi. Mungkin karena kebiasaan yang sudah mendarah daging ini banyak yang tanpa sadar bercerita tanpa harus diminta, banyak yang meminta pembenaran akan luka yang mereka rasakan, dan banyak yang meminta apresiasi atas usaha keras mereka, secara tersirat dalam ribuan untaian kalimat, dan hari ini akan aku katakan “kalian telah melalui hal-hal luar biasa dalam hidup yang belum tentu bisa di lalui orang lain, dan aku takjub, karena kalian sudah bertahan dengan sangat baik”. 

Ada salah satu cerita singkat dari seorang perempuan yang biasa aku panggil “mbak”, setelah berbicara panjang lebar tentang cerita zaman sekolahnya dia bilang “ Sebelum ke sini, saya tidak pernah punya teman laki-laki yang begitu terbuka (re : pecicilan), jadi saya cenderung memandang sesuatu tidak general, tapi setelah di Pare fikiran saya cukup terbuka karena bertemu dengan berbagai macam karakter orang,saya bisa memandang dunia dengan lebih luas dan saya bersyukur dengan itu”. Sekali lagi, aku tersentuh. Memang cepat sekali tersentuh (asalkan jangan cepat disentuh sama non-muhrim wakakakaka). Lihat kan, betapa sederhana pertemuan mengajarkan kita bagaimana untuk hidup. 

Ada juga orang yang pertama kali aku temui penampilannya seperti anak-anak punk, bertopi ,rambut sedikit gondrong, berkalung, celana selutut. Dan kesaalahan yang aku lakukan adalah menilai tanpa mengenal, sempat terbesit “wih gilak sih ni anak” ketika anak itu masuk kelas yang sama dengan aku. Tapi siapa sangka lagi, beberapa kali aku bilang ke orang-orang betapa takdir itu lucu, anak itulah yang seringkali membuat tawaku mubazir, yang sering membagi makanannya denganku,  yang membuka salah satu sudut sempit pikiranku yang begitu aku benci dari diriku “first impression” dan dia secara tersirat dengan kelakuan dan penampilan yang tidak singkron menyatakan bahwa betapa kesan pertama itu sangat cetek untuk dijadikan parameter penilaian. Mungkin saja dia tak sadar telah menyadarkan orang lain, dan betapa aku bersyukur dipertemukan dengannya siang itu di kelas pre-writing IELTS. 

Dan akhirnya beribu menit yang aku lalui yang sarat dengan pelajaran hidup ini akan segera berakhir. Berakhir bukan untuk berhenti, tapi untuk memulai babak kehidupan yang baru, pastinya bertemu orang baru lagi dan pelajaran yang mereka bawa.  

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan begitu beratnya melepas semua hal yang ada di sini, yang ada di Pare ini. Setelah aku pikirkan lagi betapa mudahnya satu bulan yang lalu aku menginjakkan kaki di sini, begitu mudahnya dulu aku mempertimbangakan keberadaanku di sini, dan begitu mudahnya aku “tanpa alasan” yang amat kuat untuk datang kesini. Sekarang aku kena karma, aku sudah tau rasa, betapa aku begitu meremehkan Pare dan isinya. Dan ingin aku ucapkan, “selamat bersenang-senang dengan hari yang penuh rindu cha, kamu pantas menerimanya”. 

Untuk mengakhiri tulisan ini, izinkan aku ucapkan terimaksih kepada semua crew yang sudah bertanggung jawab dalam kesuksesan drama hidupku episode kali ini.
Terimakasih Pare, Kampung Inggris atas pengalaman yang sarat pelajaran hidup
Terimakasih Global English sudah menciptakan tim IELTS Super Camp
Terimakasih tutor IELTS Super Camp dan jajarannya
Terimakasih tutor yang merangkap jadi teman satu camp dan teman satu camp lainnya (Ms.farida, Ms.Rafida, Ms.Desy, Ms.Sasnita, Ms.Yuni, Ms.Firda, Mbak lailan, Niyar, Dina, Ziyan dan my special roomates Jijah dan Juju)
Terimakasih Tutor Personalized training dan membernya (Mr.Dillan, Mr.Miko, David, Hokky, Alif, Juju, Rilla dan Jijah)
Dan teman-teman yang belum bisa aku sebutkan satu persatu di sini. Terimakasih telah menjadi aktor dan aktris beserta crew yang luar biasa dalam mensukseskan drama kehidupanku.💗









Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Life lesson

Beda itu indah !

Berdamai dengan perasaan