Lalu Apa ?
Subuh
ini keinginanku untuk menulis datang kembali setelah menerima pertanyaan dari
seorang teman yang baru pagi ini aku baca, tepat setelah shalat subuh pikiranku
terpaksa kembali mengingat hidupku satu tahun yang lalu sekitar bulan
November-Desember 2017, waktu itu aku masih di Jogja berstatus mahasiswa.
Dulu
aku sering merenung di tengah hecticnya kehidupan perkuliahan profesi, kalau
saja waktu itu hanya sibuk kuliah mungkin semuanya akan baik-baik saja, tapi
tahun 2017 itu juga penuh dengan penjatuhan mental dan kepercayaan diri buat
aku dan mungkin juga buat teman-temanku. You know after graduated from
university A, I got my bachelor degree and then continue my study to
university B, so much pleasure awalnya karena bisa kuliah profesi apoteker
meskipun di kampus yang berbeda dan harus kembali beradaptasi dengan lingkungan
dan orang-orangnya.
Awal
masuk kuliah profesi aku stress, sering nangis di kamar sendirian, aku
buka-bukaan aja soal ini biar teman-teman tau kalau aku juga pernah lo
mengalami masa sulit di hidupku. Bayangkan aja, dulu zaman S1 kalian tergolong
anak yang cukup diperhitungkan keberadaannya, dikenal banyak dosen sehingga
segala urusan di kampus itu terasa mudah banget dilalui disaat temen-temen
kalian butuh dimarahin dan dicaci maki dulu baru dapat. Pokoknya waktu itu life
was so easy, sampe ga satu dua orang yang menggantungkan harapan mereka ke
kalian, sampe banyak yang dateng bahkan nginap di kosan hanya untuk konsul
masalah perkuliahan atau kehidupan pribadinya.
Keadaan
berbalik setelah aku lanjut kuliah di kampus yang berbeda, aku ga kenal orang
dan orang ga kenal aku, hanya segelintir teman-teman organisasi lintas kampus
dulu yang aku kenal, yang lebih menyakitkan adalah aku ga kenal satupun dosen
dan dosen ga kenal aku di saat kuliah profesi yang menurutku lebih sulit
daripada kuliah S1, you are not famous anymore, you do not have any pride here,
you do not have people to help you, you have to struggle by your self. Apalagi
banyak banget mata kuliah kita yang ga match sehingga aku harus ngulang belajar
dari awal lagi di saat temen-temenku udah ngespeed 100 Km/Jam dan aku masih di
50 Km/Jam.
Menjadi
seorang extrovert yang penuh pride dan suka semua orang membuat aku merasa
kalau masa-masa itu sungguh berat, mungkin ada satu dua orang yang membaca ini
merasa kalau hal yang aku alami adalah hal yang biasa saja, tapi seiring
berjalannya waktu aku paham bahwa tingkat pertahanan hidup orang itu beda-beda,
kita ga bisa ngeclaim kalau hidup yang kita jalani lebih sulit atau lebih mudah
dari orang lain karena kita lahir membawa beban dan peran masing-masing sesuai
porsi yang Allah berikan, makanya mulai sekarang jangan sering ngatain temennya
“baper banget si lo” karena porsi dia emang segitu.
Alhamdulillah,
waktu itu aku sudah paham banget sama diri aku sendiri. Aku tahu harus
melakukan apa ketika aku sedih, kecewa atau kehilangan kepercayaan diriku.
Jadilah aku bongkar sertifikat-sertifikat penghargaan yang aku dapat dari zaman
S1, ada beberapa aku bingkai ulang, ada yang memang udah sama bingkainya, aku
rombak isi kamarku lalu aku pajang sertifikat-sertifikat itu di tembok kamar,
aku ga peduli tanggapan orang-orang yang masuk kamarku dan ngeliat itu lalu
berfikir aku sombong, atau mau pamer, aku cuma peduli sama psikologiku saat
itu, sampe akhirnya ada satu dua orang bertanya kenapa aku menggantung
sertifikat-sertifkat itu dan aku jawab, “biar kalau udah lelah di kampus,
ngerasa paling bodoh dan aku masuk kamar aku bisa sadar lagi kalau aku keren
dengan caraku sendiri”, caraku ini manjur banget buat aku, sedikit demi sedikit
aku bangkit lagi, belajar lebih giat lagi dan aku bisa balikin senyumku lagi
dan yang terpenting aku ga iri lagi sama temen-temenku yang dikaruniai IQ lebih
tinggi because I believe that I’m amazing in my own way.
Anyway,
aku mengalami masa keterpurukan itu sekitar 3 bulan pertama kuliah setalah itu
I’m very fine and enjoy my life. Satu hal juga yang bisa membuat aku bangkit
saat itu adalah teman-temanku. Alhamdulillah lagi, Allah selalu meletakkan aku
yang penuh dosa ini diantara orang-orang baik, mungkin karena doaku selalu
kayak gitu kalau berpindah lingkungan, “ Ya Allah, letakannlah aku diantara
hambamu yang baik”, gitu terus ga aku ganti-ganti sampe sekarang, karena sekali
lagi aku paham banget kalau aku mudah ikut-ikutan temen karena suka kumpul
rame-rame.
Takdirku
bagus banget kali ini, aku ada di lingkungan cewek-cewek berhijab lebar dan berbaju
longgar, yang rajin ngaji tapi ga pakai selfie, aku amaze banget sama iman
mereka ya, ga bisa masuk logikaku saat itu, when di umur aku yang saat itu
masih suka-sukanya maen dan keluyuran, mereka ngajakin pergi kajian terus,
awalnya mau ga mau aku harus ikut daripada diem sendiri di kos (sekali lagi
beginilah perasaan anak 94% extrovert, ga suka sendiri), sampe akhirnya pada
suatu isya setelah kajian bakda maghrib, temen-temenku sedang merapatkan shaf
untuk shalat dan aku nunggu di teras masjid karena sedang halangan. That was
the most amazing spiritual thing of my life, ketika suara imam mengucapkan
“Allahuakbar” dan mulai membaca Al-Fatihah, air mata aku bercucuran deras
sekali sampe aku ga bisa nahan semuanya lagi, aku tiba-tiba ingat orang tua di
rumah, ingat bagaimana mereka bisa nguliahin aku sampe di sini, inget dosa-dosa
aku, inget segala hal buruk yang pernah aku lakuin, aku bener-bener nangis
sesenggukan di masjid Pogung dalangan, saksi semua perjalanan spritualku yang
mungkin setelah baca ini temen-temen “sepengajianku” akan tau kalau aku pernah
nangis sampe bolak-balik kamar mandi di situ karena ga bawa tisue.
Kejadian
itu terjadi sekitaran bulan oktober akhir, dan setelah itu aku mulai masuk di
fase stabil dalam hidup aku ; jasmani dan rohani. Lalu saat-saat itu aku udah
stabil juga di kampus, udah bisa ngepeed lebih cepet dan nyeimbangin
temen-temen yang lain dan satu hal yang bisa aku simpulin dari 3 bulan
keterpurukan itu, “ kalau dekat dengan Allah semua aman, meski ekspektasi kita
ga sesuai dengan realita yang didapatkan, setidaknya hati akan selalu dijaga
dan diberi ketenangan”.
Memasuki
bulan november aku sering merenung sendiri di waktu luang, berfikir tentang
kehidupan apa yang sedang aku jalani, sehingga banyak pertanyaan yang bermunculan
dan aku jawab sendiri, sampai pada pertanyaan yang ditanyakan temanku pagi ini,
aku sudah menanyakan diri aku sendiri november 2017 lalu. Aku mulai sadar waktu
itu bahwa hidup hanya seputar menginginkan sesuatu – berusaha – lalu dapat –
repeat, manusia ga akan pernah puas dengan apa yang dia miliki, kemudian
muncullah pertanyaan itu, “lalu apa ?”, “kalau aku dapat hal yang aku inginkan
,terus kenapa”, “kalau aku ga dapat terus kenapa?”, “selama aku baik-baik saja
dengan diri aku sendiri lalu apa?”, aku hujani diri aku sendiri dengan
pertanyaan itu, dan akhirnya aku sadar bahwa selama ini aku hidup untuk orang
lain, hidup untuk terlihat baik di depan mereka, ini lucu dan tidak adil, saat
kita udah berusaha agar terlihat luar biasa lalu kemudian dipuji orang dengan satu kalimat yang hanya sebatas di
ujung lidahnya saja, lalu selesai, semua sia-sia. Apa karena alasan yang sangat
spele ini aku hidup?
Begitulah
aku memulai hidup baru setelah menjadi budak hidup manusia, aku sadar bahwa
hidup sederhana dan tidak disoroti itu ternyata jauh lebih menenangkan hati
daripada harus show up di depan banyak orang, aku memilih hidup seperti itu
mulai saat itu, hidup tanpa harus memikirkan pendapat orang lain tentang
hidupku, hidup tanpa harus membandingkan jalan hidup orang lain dengan jalan
hidupku, hidup dengan gayaku sendiri. Satu pertanyaan yang paling aku sukai
sampai saat ini,”kalau sukses di saat kita berumur lebih dari 30 atau 40 tahun
namanya apa? Tetap sukses bukan? Terus kenapa ?”.
Aku
harap kita semua selalu bersyukur dengan hidup yang telah diberikan, selalu
bisa mengambil sisi positif dari keadaan yang kita alami, yah karena hidup
hanya tentang jatuh dan bangkit kembali, kalau bukan dengan mencintai dan
mengerti diri sendiri siapa lagi yang lebih memahami kita ketika kita jatuh dan
ingin kembali berdiri?
Komentar
Posting Komentar